Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Pemanfaatan Facebook Sebagai Alat Enkulturasi Budaya Diskusi dan Literasi dalam Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar



Pemanfaatan Facebook Sebagai Alat Enkulturasi Budaya Diskusi dan Literasi dalam Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar
Oleh Hafni Resa Az-Zahra



Facebook merupakan sebuah media sosial yang booming di kalangan masyarakat Indoesia sekitar tahun 2008 yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg, seorang pemuda asal Universitas Harvard Amerika.
Jika dikaji dari asal mula katanya, face berati wajah atau sampul atau halaman muka, dan book berarti buku. Maka facebook dapat didefinisikan sebagai halaman yang dapat mencerminkan sebuah isi yang tidak lain adalah buku itu sendiri. Sementara buku yang dimaksud adalah pribadi seseorang sehingga facebook diharapkan dapat mencerminkan karakter, pemikiran, atau kegiatan seseorang.
Facebook memfasilitasi para penggunanya dengan beragai fitur yang dapat dijadikan sebagai media komunikasi, informasi, eksistensi diri, promosi, bahkan hiburan. Sehingga hal-hal tersebut dapat menjadi motif masyarakat menggunakan facebook. Jika orang dewasa menggunakan facebook sebagai media komunikasi, informasi, eksistensi diri, dan promosi, maka anak-anak menggunakan facebook selain dari untuk alasan yang sama dengan orang dewasa, mereka juga menggunakannya untuk bermain game. Pada intinya, facebook menyuguhkan sebuah dunia baru bagi orang dewasa, remaja, dan anak-anak untuk melakukan segalanya dalam sebuah media sosial.
Media sosial yang identik dengan beranda dan statusnya ini banyak sekali diminati oleh semua lapisan masyarakat. Pengguna facebook di Indoensia saat ini menurut Anand Tilak, Kepala Facebook Indonesia, dalam Tempo.co 2014 dikatakan mencapai 69 juta orang.  Jumlah yang sekian banyak itu didominasi oleh remaja dan orang dewasa, namun ternyata anak-anak usia sekolah dasar juga memiliki jumlah yang lumayan mencengangkan.
Bagaimana cara anak-anak mengenal facebook? Itu beragam tergantung dengan proses sosialisasi yang mereka dapatkan. Hanya memang mediator yang paling utama adalah teman pergaulan dan lingkungan.
Di dalam proses sosialisasi dikenal dengan istilah enkulturasi di mana menururt Koentjaraningrat enkulturasi adalah proses ketika individu mempelajari sesuatu dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, sistem norma, dan peraturan dalam kebudayan di sekitarnya. Maka seorang anak yang bergaul dengan teman-temannya yang menggunakan facebook, atau di lingkungannya dipenuhi dengan orang dewasa yang menggunakan facebook,  dia akan melakukan proses enkulturasi dengan cara mengamati apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya dengan facebook tersebut, kemudian dia melakukan proses imitasi (meniru tindakan), lalu tindakan yang dia lakukan diinternalisasi ke dalam kepribadiannya, selanjutnya melalui proses meniru yang terus menerus itu hal yang dilakukannya menjadi sebuah pola yang mantap sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Dalam hal penggunaan facebook ini maka kebiasaan yang lebih dominan adalah kebiasaan update status yang merupakan representasi dari apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilakukan oleh mereka yang menggunakan facebook.
Banyak fitur di dalam facebook yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan misalnya untuk proses pembelajaran. Dalam hal ini guru dapat membuat grup facebook dengan nama kelas dan sekolah atau nama lainnya, kemudian siswa yang sudah mempunyai akun facebook masing-masing bergabung dengan grup tersebut. Grup yang dibuat oleh guru tersebut dapat digunakan untuk informasi tugas bahkan diskusi terkait studi kasus. Siswa diminta memberi tanggapan terhadap studi kasus yang diberikan guru di grup, demikian seterusnya hingga kegiatan tersebut menjadi kebiasaan agar sejak masih sekolah dasar siswa terbiasa untuk berpikir kritis dan diskusi di luar pembelajaran.
Selain dari grup di facebook, fitur catatan dalam facebook pun bisa dimanfaatkan untuk melatih siswa dalam menulis. Misal saja menulis puisi, cerita pendek, pantun, atau artikel sederhana. Biasanya kegiatan menulis akan menjadi hal yang monoton, membosankan bagi siswa karena tulisan yang mereka buat harus ditulis tangan dan dikumpulkan kepada guru tanpa apresiasi dari teman-temannya. Padahal jika saja tugas menulis itu diinstruksikan guru untuk dikerjakan di catatan facebook, maka siswa akan merasa tertarik karena yang mereka lakukan adalah hal yang baru. Tulisan siswa yang dipostingkan ke dalam catatan facebooknya dapat diapresiasi oleh guru secara langsung dan antar siswa itu sendiri. Mereka bisa saling memberikan komentar, kritik, saran, atau pujian terhadap tulisan yang mereka buat.
Bagi siswa yang malu-malu, hal itu bisa diredam dengan pemberian motivasi oleh guru bahwa dia tidak usah takut karena semua siswa di kelas pun melakukan hal yang sama, menulis di catatan facebook untuk diapresiasi oleh teman yang lain. Intinya bangkitkan kepercayaan dirinya dengan stimulus-stimulus positif. Jika di sisi lain guru melihat ada siswa yang tulisannya sudah baik, maka beri pula motivasi dan bimbingan kepada siswa tersebut untuk terus mengembangkan bakatnya dengan terus menulis, terus membuat karya, hingga mereka matang dalam bakat tersebut. Melalui pengembangan pola pembelajaran menulis dengan mengintruksikan tugas menulis di catatan facebook untuk materi-materi tertentu, maka hal itu dapat dijadikan sebagai penilaian portofolio terhadap keseluruhan karya tulis yang dibuat oleh siswa. Karena untuk ukuran siswa sekolah dasar rasanya masih terasa sulit untuk mengenalkan blog sebagai wadah bagi tulisan mereka.
Facebook Sebagai Alat Penilaian Afektif
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, facebook sering digunakan sebagai media eksistensi diri di mana seseorang akan menuliskan apa yang dirasakannya, dikerjakannya, dan dipikirkannya ke dalam kolom status. Maka dalam hal ini guru bisa membaca kepribadian dan karakter siswa satu per satu melalui apa yang dituliskan oleh siswanya. Karena memang kebanyakan tulisan seseorang juga merupakan cerminan dari siapa sebenarnya orang tersebut. Namun ada hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam hal ini, yaitu faktor kedekatan dan kenyamanan siswa terhadap gurunya tersebut. Agar penilaian afektif ini bisa dilakukan, maka guru harus mengupayakan agar siswanya menganggapnya sebagai teman sehingga apa yang mereka tuliskan dalam kolom status adalah kejujuran, kebenaran tentang apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan kerjakan, bukan sekedar tulisan pencitraan agar sikap mereka dinilai baik oleh gurunya.
Kembali kepada proses enkulturasi, setiap anak akan menginternalisasikan ke dalam dirinya segala perilaku yang mereka amati sebelumnya, kemudian hasil pengamatan itu mereka tiru. Setelah meniru mereka akan padukan unsur-unsur yang mereka dapatkan itu ke dalam karakter dalam dirinya sampai melakukannya berulang-ulang sehingga perilaku itu menjadi budaya mereka sendiri. Maka untuk hal ini guru bisa menanamkan enkulturasi yang positif dalam pemanfaatan facebook sebagai bagian dari kemajuan teknologi. Dengan menggunakan facebook sebagai media pembelajaran dan penilaian afektif bagi guru, maka diharapkan siswa akan memiliki budaya diskusi dan literasi sejak kecil sehingga mereka terbiasa menggunakan facebook khususnya dan teknologi pada umumnya untuk hal-hal yang positif, bukan hanya sekedar chatting apalagi disalahgunakan untuk hal-hal yang negatif.

Senin, 29 Desember 2014

Resume Pembelajaran: Inovasi Pembelajaran Melalui Teknologi Informasi (Internet)



NAMA   : HAFNI
KELAS   : 2-A

INOVASI PEMBELAJARAN MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI (INTERNET)

Teknologi informasi berperan besar dalam perubahan suatu negara.
Internet dapat digunakan sebagai pembelajaran di sekolah karena memiliki karakteristik yang khas, karena multi rupa, interaktif.
Faktor pendukung pembelajaran melalui Teknologi Informasi:
1.      Institusi, dengan menyediakan berbagai peralatan atau infrasturktur, biaya peralatan, dan biaya operasional.
2.      Masyarakat, keluarga yang menggunakan internet akan membuat anak dalam keluarga tersebut juga bisa menggunakan internet. Teman sebaya, anak mengenal internet juga dari teman sebaya.
3.      Guru, memberikan pemahaman kepada anak tentang internet, tentunya guru juga harus mengetahui dan memahami dulu internet.
4.      Siswa, menggunakan internet sebagai sumber dan media dalam belajar.
5.      Teknologi (client, server, mode distribusi, dukungan teknik).
Model-model pembelajaran internet:
1.      Web cource, menggunakan fasilitas internet seperti e-mail.
2.      Web centric course, penugasan, bahan, disampaikan melalui internet sedangkan diskusi pembelajaran dengan tatap muka. Presentase tatap muka lebih kecil dibandingkan dengan internet.
3.      Web Enchanced Course, menyediakan sumber-sumber belajar dengan menyediakan alamat-alamat internet yang bisa diakses secara online, presentase tatap muka lebih besar di sini.



Dari pemaparan pemateri di atas, terdapat beberapa pertanyaan seperti berikut:
Kelompok 12
Iik Faiqotul Ulya absen 32
Bagaimana mengoptimalkan proses pembelajaran E-Learning di SD dilihat dari segi fasilitas yang mana banyak SD yang belum memadai, atau memang di SD belum saatnya belajar menggunakan proses pembelajaran E-Learning?
Jawaban dari pemateri:
Ada empat faktor pendukung pembelajaran mengenai teknologi informasi agar pembelajaran tersebut bisa berhasil.
1.      Faktor lingkungan, ada institusi dan juga masyarakat. Institusi harus mempunyai komitmen dalam menyediakan layanan internet dll.
2.      Siswa
3.      Guru
4.      Teknologi.
Mengenai apakah sudah saatnya atau belum di SD menggunakan metde E-Learning, maka memang belum saatnya, tetapi tergantung kesiapan SD tersebut dilihat dari berbagai faktor yang ada.
Tambahan dari Habibah absen 4
Untuk mengoptimalkan pembelajaran tersebut yaitu dapat dilakukan seperti pada buku halaman 208.
Menurut Sa’ud (2008:208) dalam implementasi pembelajaran, terdapat model penerapan e-learning yang bisa digunakan, yaitu: Selective model, sequential model, static model, dan laboratory model.
Selective model bisa digunakan jika jumlah komputer di sekolah hanya ada satu komputer, maka guru harus memilih salah stau bahan dari internet untuk diajarkan kepada siswa.
Sequential model digunakan jika jumlah komputer di sekolah terbatas, misanya hanya ada dua atau tiga unit komuputer, maka misalkan siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, dan kelompok-kelompok tersebut bergiliran menggunakan komputer untuk mencari sumber.
Static statition model, digunakan jika jumlah komputer terbatas, misalnya hanya ada dua atau tiga komputer, namun bedanya siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Misalkan dua kelompok mencari sumber dari internet dengan menggunakan  komputer, sedangkan kelompok yang lain mencari sumber belajar lain (non internet) misalnya dari buku, dll.
Terakhir adalah Laboratory Model, dimana jika jumlah komputer banyak maka siswa bisa lebih leluasa menggunakannya, misalkan satu siswa satu komputer.
Tentang apakah sudah saatnya atau belum di SD menggunakan internet, menurut saya sudah saatnya tinggal bagaimana peran guru membatasi dan memfiltrasinya.
Tanggapan saya sendiri, menurut saya memang sudah saatnya SD mengenal internet. Di era globalisasi ini penyebaran iptek berlangsung begitu cepat, sehingga tentu saja siswa secara tidak langsung akan mengenal internet. Namun harus ada pengawasan dari guru dan orang tua agar siswa menggunakan internet dengan bijak.
Jika seseorang tidak menggunakan internet di era globalisasi ini, maka orang tersebut akan ketinggalan zaman. Banyak wawasan dan pengetahuan yang bisa didapatkan dari internet. Bahkan sekarang sudah banyak situs berita online, maka akan semakin banyak sumber informasi.
Selain itu, pada umumnya siswa akan lebih antusias terhadap seuatu yang baru. Cara pengiriman tugas atau mencari bahan beajar dari internet, akan membuat siswa tertarik. Hanya memang sebelumnya siswa tersebut harus diajarkan dulu TIK.
Mengutip juga sebuah pemberitaan dalam edukasi.kompas.com di mana di sana ada perkataan Wakil Presiden Boediono, menurut Boediono, e-learning merupakan lompatan untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan dunia internasional.
"E-learning, apabila didesain dengan baik, akan dapat menjawab sebagian besar dari hambatan. Dan dengan itu, pemerataan pendidikan dapat kita percepat," kata Boediono saat memberikan Kuliah Perdana Universitas Surya di Jakarta, Selasa (3/9/2013).
Boediono mengakui bahwa kondisi pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan. Ia berharap setiap anak Indonesia di pelosok mana pun, apa pun latar belakang sosial ekonominya dapat dengan mudah dan murah memperoleh pendidikan yang bermutu.
Boediono mengatakan, banyak faktor yang mengakibatkan ketertinggalan pendidikan Indonesia, mulai dari keterpencilan, keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan, hingga ketidakmerataan penyebaran guru yang mumpuni. Selain itu, adanya hambatan kemiskinan, biaya sekolah yang mahal, dan masih ada keluarga yang kurang menghargai pendidikan bagi anak-anaknya.
Boediono menyarankan agar e-learning dibangun berskala nasional dengan diterapkan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Jika diterapkan di perguruan tinggi, mahasiswa di mana pun, kapan pun dapat dengan mudah mengakses mata kuliah.
Selanjutnya adalah pertanyan dari Tira Widianti, kelompok 1:
Kelompok 1
Tira absen 20
Bagaimana efektivitas penggunaan internet di SD, perlu atau tidak? Fasilitas belajar dengan internet itu perlu, tetapi tidak semua kalangan bisa menikmati seperti wifi kurang memadai, dll. Lalu bagaimana solusinya?
Pemateri menjawab bahwa mengenai efektif atau tidaknya, menurut kelompok kami belum efektif, tapi bukan berarti tidak perlu. Mungkin seperti tadi yang dikatakan Tira sendiri bahwa anak SD itu harus sambil tatap muka. Mengenai keterbatasan fasilitas, solusinya? Tidak semua mahasiswa/siswa mempunyai laptop, maka harus ada Lab dan disediakan juga wifi. Kalau wifi terbatas, gunakanlah fasilitas Lab.
Tanggapan menurut saya, ya memang perlu di SD digunakan internet. Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, bahwa banyak sekali kelebihan dari internet yang dapat menjadi faktor pendukung keberhasilan belajar siswa. Tinggal bagaimana guru dan siswa itu sendiri mengoptimalkan dan memanfaatkan internet secara bijak. Selain itu guru dan orang tua harus ikut mengawasi agar siswa tidak menyalahgunakan internet.
Terkait wifi, tanggapan dari saya, karena masalah wifi itu yang Tira keluhkan itu bukan berkaitan dengan permasalahan di SD, melainkan dengan permasalahan kita sebagai mahasiswa, maka untuk tetap dapat berdiskusi secara efektif dengan metode e-learning, selain dengan memanfaatkan lab kampus, juga mengapa tidak memanfaatkan smart phone saja. Hampir 50% di kelas ini sudah menggunakan android, dan bisa digunakan untuk wifi. Jika setiap ponsel android diaktifkan wifinya, maka setiap siswa yang tidak memiliki modem dan tidak bisa mengakses wifi, masih bisa menggunakan wifi android. Hanya memang butuh pengorbanan dan keikhlasan dalam menyumbangkan pulsa bagi para pengguna ponsel android di kelas ini.
Selanjutnya adalah pertanyaan dari Dyanti kelompok 2:
Kelompok 2
Dyanti Safitrilia  absen 5
Apa kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran E-Learning di sekolah dasar?
Kelebihan:
1.      Memudahkan proses pembelajaran sehingga tidak hanya tatap muka saja tapi bisa juga dengan jarak jauh.
2.      Sumber belajar tersedia luas, jadi anak bisa menambah wawasan.
Kekurangan:
1.      Anak sering salah menggunakan, malah main game, dan lain-lain.
2.      Fasilitas internet kurang memadai/tidak ada.
Menurut Yusuf (2010, dalan http://mrcrocbread.blogspot.com) Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.
Jadi disini siswa benar-benar dituntut untuk berperan aktif dalam pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar.
Tambahan dari Tira absen 20
Anak SD belum bisa belajar mandiri. Sebatas mengirim tugas via e-mail, membuat fb, dll itu bisa. Tapi mungkin untuk belajar mandiri tanpa tatap muka itu akan cukup sulit.
Tanggapan dari saya, berdasarkan buku yang telah saya baa sebelumnya. Menurut Endang Sadbhudu dan I Made Nuryata, dalam buku “Pembelajaran Masa Kini” tahun 2010, bahwa ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam E-Learning.
Kelebihan E-Learning dalam proses pembelajaran:
1.      Mempercepat terjadinya proses pembelajaran yang mendasarkan diri pada Student Learning approach;
2.      Menumbuhkan kreativitas berpikir;
3.      Mendorong proses pembelajaran menjadi lebih efisien;
4.      Mendorong peserta didik berjiwa mandiri;
5.      Memotivasi peserta didik giat belajar;
6.      Menjadikan komputer sebagai alat bantu penyelesaian administrasi;
7.      Memberikan rasa keadilan pada masyarakat.
8.      Mengatasi kekurangan tenaga pendidikan dan meningkatkan efisiensi.
Adapun kekurangan dari E-Learning adalah:
1.      Kurangnya interaksi antara guru dan peserta didik atau bahkan peserta didik sendiri.
2.      Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
3.      Proses pelajaran cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
4.      Berubahnya peran guru yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran menggunakan IT.
5.      Peserta didik yang tidak mempunyai motivasi tinggi cenderung akan gagal.
6.      Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah terjadinya listrik, telepon, atau komputer).
7.      Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan tentang internet.
8.      Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
Melihat dari kelebihan dan kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran E-Learning, maka sudah seharusnya instansi-instansi pendidikan memfasilitasi sekolah-sekolah dengan internet dan sebisa mungkin bahu–membahu meminimalisasi hambatan lain yang ada.

Resume Pembelajaran: Peningkatan Profesionalisme Guru



NAMA   : HAFNI
KELAS   : 2-A

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
Guru harus mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaannya serta mengembangkan keahliannya tanpa mengganggu tugas pokok guru tersebut.
Upaya peningkatan profesionalisme guru:
1.      Menaikkan upah dan gaji
2.      Pengurangan beban guru
3.      Pelatihan dan sarana
4.      Pendidikan dalam jabatan
5.      Mengikuti program sertifikasi
6.      Memperluas pengetahuan dan keterampilan
7.      Mengutamakan layanan
8.      Memiliki organisasi
9.      Memberi penghargaan dan hukuman

Supervisi dalam peningkatan profesionalisme guru:
1.      Supervisi dalam pengembangan kurikulum
Sebagai controlling
2.      Supervisi dalam pengembangan personil

Hambatan peningkatan profesionalisme guru

1.      Personal
2.      Ekonomis
3.      Struktural
4.      Sosial
5.      Budaya


Dari paparan pemateri di atas, didapat beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaannya adalah sebagai berikut:

Nurhasanah Lidyaningsih
Bagaimana peran guru profesional dalam proses pembelajaran? Kemudian bagaimana komitmen guru dalam menjaga keprofesionalannya.
Jawaban dari Iik Faiqotul Ulya sebagai pemateri.
Peran guru profesional:
1.      Komunikator, guru harus berperan sebagai komunikator mengkomunikasikan pembeljaran baik verbal maupun nonverbal.
2.      Fasilitator, memfasilitasi siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, secara maksimal.
3.      Memberikan pelayanan baik individual atau kelompok
4.      Memberikan pelajaran remedial bagi peserta didik yang kurang berprestasi
5.      Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, dan nyaman termasuk penyediaan bahan pembelajaran.
6.      Mengembangkan pembelajaran sebagai sumber utama.
Selain itu ntuk menjaga keprofesionalannya dengan mengurangi metode ceramah, mengelompokan peserta didik sesuai kemampuan,
Menjaga komitmen ada pengawasan dari supervisor, biasanya ada control dalam jangka waktu 6 bulan sekali. Atau adanya akreditasi juga merupakan bagian dari cara untuk menjaga komitmen guru.
Kemudian Nurhasanah bertanya kembali “Lalu apa bedanya kinerja yang sudah disertifikasi dengan yang belum?”
Tambahan dari Fajar:
Bedanya hanyalah maksimal atau tidaknya dalam menjalankan perannya. Sedangkan tugasnya umumnya sama aja. Kalau yang sudah disertifikasi gajinya naik, yang belum gajinya tetap. Sehingga karena gajinya naik maka guru tersebut akan lebih fokus dalam mengajar.
Tanggapan dari saya mengenai pertanyaan di atas, menurut  saya guru yang profesional adalah mereka yang mengajar dengan memperhatikan komponen-komponen pembelajaran yang terkait dengan pembelajaran. Misalnya saja memerhatikan tujuan pembelajaran, evaluasi, materi, sumber belajar, evaluasi, metode, dan mendia yang dipergunakan apa saja.
Guru yang profesional akan memerhatikan, menimbang, dan memilih, metode apa yang harus dipilihnya pada saat proses pembelajaran, disesuaikan dengan tujuan yang ada. Bagaimana medianya, evaluasinya, sumbernya dan lain-lain.
Lalu menurut saya, guru yang profesional juga mereka yang mengetahui, mengamalkan, dan berusaha mengembangkan empat kompetensi guru yang harus mereka miliki. Adapun kompetensi tersebut adalah kompetensi sosial, profesional, kepribadian, dan pedagogik.
Selanjutnya adalah pertanyaan kedua dari Fajar Saputra, yaitu:
Bagaimanakah prosedur sertifikasi dan apa yang salah dari prosedur itu sehingga banyak guru yang tidak meningkat profesionalismenya setelah disertifikasi?
Saat itu Andi Permana Sutisna  sebagai pemateri menjawab bahwa ada beberapa hal yang dapat dijadikan penilaian untuk kegiatan sertifikasi guru. Adapun penilaiannya adalah sbagai berikut:
1.      Portofolio, berupa berkas, seperti surat tugas dari minimal kecamatan, kegiatan di sekolah, prestasi pendidikan guru, dll.
2.      PLPG
3.      PSPL (Pemberian Sertifikasi Pendidik Secara Langsung)
Selanjutnya, ia juga mengatakan bahwa PLPG sudah cukup baik. Sangat terlihat yang lulus maupun yang tidak lulus. Yang tidak lulus kembali mengulang.
Saya menambahkan jawaban saat proses diskusi berlangsung, bahwa dkutip dari http://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/ bahwa ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh guru dalam pelaksanaan sertifikasi guru 2014 nanti. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
Verifikasi Calon Peserta 2014
Berikut tahap pelaksanaan verifikasi calon peserta sertifikasi guru tahun 2014 :
  1. Tahap verifikasi Data :
    • Tahap 1. Verifikasi data peserta UKG 2013 dan belum terdafatar sebagai peserta sertifikasi guru 2013
    • Tahap 2. Verifikasi dan penambahan data calon peserta
  2. Persiapan dan pelaksanaan UKG bagi calon baru
  3. Evaluasi calon tidak lulus PLPG 2013
  4. Tahap penetapan Peserta
http://sergur.kemdiknas.go.id/sg13/

Itulah beberapa tahapan yang harus dilalui guru sebelum melakukan sertifikasi. Bahwa pertama-tama tahap yang harus dilalui oleh guru adalah tahap verivikasi data di mana akan di data calon peserta sertifikasi yang memang belum terdata di sertifikasi 2013. Selanjutnya adalah persiapan dari Uji Kompetensi Guru (UKG).  Kemudian jika calon peserta lulus UKG maka ditetapkan bahwa guru tersebut berhak mengikuti PLPG.
Dikatakan pula bahwa calon peserta yang boleh mendaftar adalah mereka yang belum mengikuti sertifikasi di tahun 2013 atau mereka yang tidak lolos sertifikasi tahun 2013. Itu dikarenakan memang PLPG ini akan berakhir di tahun 2014. Kemendikbud sendiri sudah mencanangkan bahwa mulai tahun 2015 sertifikasi guru ini hanya akan dinilai dari PPG. Seperti dilansir dari sergur.kemendiknas.go.id bahwa pelaksanaan Sertifikasi Guru melalui program PLPG dan portofolio akan berakhir pada 2014 mendatang. Selanjutnya, mulai 2015 sertifikasi guru hanya akan diberikan melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan selama setahun.
Selanjutnya adalah pertanyaan dari Nina Nurliani, adalah sebagai berikut:
Fakta di lapangan banyak guru yang stress mengikuti PLPG takut tidak lulus dsb. Profesionalismenya itu bagaimana jika terjadi kejadian seperti itu? Dan bagaimana caranya agar kegiatan PLPG tersebut bisa membantu meningkatkan profesionalisme guru?
Saat itu Eria sebagai pemateri menjawab bahwa mungkin stres itu terjadi karena gurunya merasa tidak mampu. Maka dengan adanya PLPG diharapkan guru akan dilatih mendapat pelatihan dll yang akan membantu profesionalismenya. Mengapa banyak guru yang stres? Karena saat guru sudah disertifikasi, maka dia itu sudah dianggap kompeten/profesional. Sehingga yang belum tersertifikasi dianggap belum profesional.
Saya juga memberi tambahan saat proses diskusi berlangsung. Menurut saya ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa guru bisa stress saat sedang melaksanakan PLPG. Mendengar dari beberapa cerita guru dan Ibu Een Sukaesih, tokoh guru inspiratif Indonesiaa, bahwa kemungkinan ada beberapa yang menjadi sebab, diantaranya:
1.      Dosen PLPGnya terlalu idealis.
2.      Kondisi piskisnya, dijauhkan dari keluarganya.
3.      Terlalu banyak tugas dan lelah karena belajar dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam.
4.      Serta kuota untuk kelolosan guru yang tersertivikasi terbatas.
Masih bersumber dari sergur.kemendiknas.go.id bahwa kuota kelulusan itu memang terbatas. Catatan Kemendikbud menyebutkan bahwa UKG tahun ini diikuti tidak kurang dari 700 ribu orang. Tetapi kuota sertifikasi guru 2013 sebesar 350 ribu saja. Itu artinya hampir bisa dipastikan separus peserta UKG tahun ini dinyatakan gugur dan akan diikutkan sertifikasi tahun depan.  Syawal mengatakan bahwa UKG tahun ini degalar secara online, tidak menggunakan kertas ujian lagi.