Senin, 29 Desember 2014

Resume Pembelajaran: Karakteristik Inovasi Pendidikan



NAMA   : HAFNI
KELAS   : 2-A

KARAKTERISTIK INOVASI PENDIDIKAN
Diskusi kedua mata kuliah Inovasi Pendidikan pada Hari Selasa, 17 September 2013 membahas tentang “Karakteristik Inovasi Pendidikan”. Materi yang didapat dari hasil diskusi tersebut adalah faktor-faktor keuntungan yang mempengaruhi cepat lambatnya proses inovasi diterima oleh masyarakat yang dikemukakan oleh Everett M. Roggers serta atribut Inovasi yang dikemukakan oleh Zaltman.
Setidaknya ada lima faktor yang mempengaruhi cepat atau tidaknya inovasi diterima dan tersebar di masyarakat. Diantaranya:
1.        Keuntungan relatif
Makin menguntungkan suatu inovasi bagi penerima maka makin cepat inovasi itu tersebar.
2.        Kompetibel
Makin sesuai inovasi dengan nilai pengalaman lalu, dan makin sesuai dengan kebutuhan penerima, maka makin cepat pula inovasi tersebut tersebat.
3.        Kompleksitas
Semakin inovasi itu mudah dimengerti masyarakat, maka masyarakat akan lebih cepat menerimanya dan inovasi tersebut akan semakin cepat tersebar.
4.        Triabilitas
Jika suatu novasi dicoba maka ada kecenderungan inovasi tersebut diterima dan cepat tersebar di kalangan masyarakat.
5.        Dapat diamati
Semakin inovasi mudah diamati masyarakat, maka akan semakin mudah difahami sehingga pada akhirnya mudah diterima dan tersebar di masyarakat.
Sementara itu dipaparkan beberapa atribut Inovasi menurut Zaltman, diantaranya:
1.        Pembayaran
2.        Balik Modal
3.        Efisiensi
4.        Resiko dan ketidakpastian
5.        Mudah dikomunikasikan
6.        Kompatibilitas
7.        Status alamiah
8.        Kadar keaslian
9.        Dapat dilihat manfaatnya
10.    Dapat dilihat batas sebelumnya
11.    Keterlibatan sasaran perubahan
12.    Hubungan interpersonal
13.    Kepentingan umum atau pribadi
14.    Penyuluh inovasi.

Dari paparan materi di atas, ada beberapa pertanyaan yang dikemukakan audiens saat diskusi.
Pertanyaan pertama dari saudari Nurjanah adalah tentang hubungan antara lima faktor yang dikemukakan Everett M. Roggers kaitannya dengan proses cepat lamabatnya penerimaan inovasi. “Jika kelima faktor tersebut tidak ada salah satunya, bagaimana apakah inovasi tersebut akan terhambat atau tidak?”
Hani Nurazizah mengatakan bahwa kelima faktor keuntungan tersebut harus ada sehingga inovasi dapat diterima masyarakat. Jika salah satunya tidak ada, maka inovasi akan terhambat.
Saat itu Delia Delfiani mengatakan bahwa kelima faktor tersebut bukanlah merupakan satu kesatuan yang mutlak semuanya harus ada sehinga tidak terlau berpengaruh. Begitupun dengan pendapat Andi Permana Sutisna yang mengatakan bahwa kelima faktor yang dikemukakan Everett M. Roggers bukan merupakan syarat diterimanya inovasi, namun jika salah satunya tidak ada maka akan berpengaruh terhadap terhambatnya inovasi.
Dari pendapat Delia dan Andi, sebetulnya secara garis besar sama dengan apa yang saya pikirkan. Akhirnya pada saat proses diskusi, saya memberikan tanggapan bahwa saya hampir sependapat dengan Andi dan Delia. Pada intinya faktor penghambat dan pemercepat terjdinya inovasi yang lima itu memang bukan merupakan suatu kesatuan yang semuanya mutlak harus ada, sehingga menyebabkan jika salah satu tidak ada maka inovasi tidak akan terjadi atau akan sangat terhambat. Pemikiran saya tidaklah seperti itu. Saya rasa, jika salah satu faktor dari lima faktor tersebut  tidak ada (Misalkan hanya ada empat atau tiga, atau bahkan hanya ada satu saja) maka inovasi tetaplah akan terjadi. Asalkan salah satu faktor ada, maka inovasi bisa saja terjadi. Mengenai masalah terhambat atau tidaknya maka itu tergantung pada sasaran inovasinya sendiri. Jika inovasi yang ‘disuguhkan’ kepada masyarakat hanya memuat satu keuntungan saja, misalnya keuntungan relatif dan masyarakat tidak banyak memikirkan keuntungan lainnya karena dari sudut pandang keutungan relatif saja masyarakat sudah cukup puas dengan inovasi yang ‘disuguhkan’, maka inovasi pun dalam proses penerimaannya berlangsung mulus tanpa ada hambatan.
Setelah saya memaparkan pendapat demikian, saudari Iik Faiqotul Ulya menambahkan jawaban dan lebih sependapat dengan jawaban pemateri, bahwasannya jika tidak ada salah satunya maka inovasi akan menemui hambatan. Begitupun dengan Tira Widianti yang mengemukakan inovasi yang ada jika tidak mencakup lima faktor tersebut tetap saja akan menemui hambatan-hambatan di dalamnya, tidak akan berjalan dengan lancar.
Saat itu mulai terjadi sedikit perdebatan, dan saya tetap pada pendirian saya bahwa terhamabat atau tidaknya suatu inovasi itu tergantung dari sasaran inovasi itu sendiri dalam menyadari faktor-faktor yang lima tersebut. Saya mengatakan saya yakin masyarakat tidak banyak yang tahu tentang teori yang lima tersebut, sehingga jika hanya ada satu saja dari faktor yang lima tersebut dan masyarakat sudah cukup pro (cukup puas) dengan salah satu keuntungan dalam faktor tersbeut (misalkan saja keuntungan relatif dari inovasi lebih diterima masyarakat dan sudah cukup meyakinkan masyarakat) maka inovasi bisa saja diterima. Sehingga kesimpulannya tidak masalah selama salah satu faktor tersebut ada, maka inovasi akan tetap diterima hanya saja cepat atau lambatnya bukan tergantung pada jumlah berapa faktor keuntungan yang ada dalam inovasi tersebut, saya lebih menekankan pada seberapa besar keyakinan masyarakat terhadap faktor keuntungan yang ada. Sehingga tergantung pada sasaran inovasinya apakah mereka ‘melek’ terhadap keuntungan dari inovasi atau tidak. Jadi tidak masalah jika hanya ada empat saja, tiga saja, dua saja, atau bahkan satu saja. Inovasi akan tetap bisa diterima dan walau hanya satu bisa saja diterima dan tersebar dengan cepat, yang menjadi masalah itu justru jika inovasi yang ‘disuguhkan’ kepada masyarakat tidak memuat kelima faktor tersebut. Pun kebalikannya jika kelima faktor tersebut ada dalam inovasi, maka itu akan sangat bagus, menjadi peluang emas untuk semakin cepat diterimanya sebuah inovasi.
Setelah saya memberikan tanggapan, saudara saya Andi Permana Sutisna pun memberikan pengandaian yang sebetulnya lebih memperjelas apa yang telah saya jabarkan. Andi memberikan contoh ibaratkan inovasi tersebut adalah sebuah mobil dan faktor-faktor tersebut adalah mesin turbo. Jika mobil itu hanya diberi satu turbo maka mobil akan tetap sampai, namun akan lebih bagus jika mobil tersebut semakin banyak diberikan mesin turbonya, apalagi jika mesin turbonya ada lima maka akan semakin cepat mobil itu sampai.
Namun setelah diskusi berakhir, Andi meminta agar saya menjelaskan kembali tentang faktor yang dikemukakan Everett M. Roggers dengan atribut Inovasi yang dikemukakan oleh Zaltman. Akhirnya saya seperti menemukan hal yang ‘serupa tapi tak sama’. Pada dasarnya pendapat dari keduanya lebih kepada hal-hal yang menjadi faktor penyebab cepat atau lambatnya diterimanya suatu inovasi, namun ternyata ada perbedaan sudut pandang. Everett M. Roggers seolah melihat dari sudut pandang sasaran inovasi (masyarakat) sehingga yang diungkapkan lebih kepada masyarakat akan menerima inovasi “A” jika inovasi yang disuguhkan adalah sejalan dengan apa yang dibutuhkan, didambakan, dan difahami masyarakat. Sedangkan Zaltman menurut saya melihat dari sudut pandang keduanya, bukan hanya dari sasaran inovasi namun juga dari sudut pandang inovator itu sendiri, seperti pada poin terakhir dijelaskan bahwa penyuluhan itu sangat penting agar suatu inovasi bisa diterima oleh masyarakat.
Selanjutnya adalah pertanyaan dari Delia dan Nita. Delia menanyakan tentang upaya apa yang harus dilakukan agar inovasi bisa diterima masyarakat, dan Nita bertanya tentang cara agar masyarakat mau menerima sesuatu yang baru. Sebetulnya itu merupakan sebuah pertanyaan yang sama menurut saya.
Ketika itu, Ai Linda Nurmalasari sebagai pemateri memberikan jawaban yang mana pada intinya sebelum inovasi itu ditawarkan maka harus ada perencanaan yang jelas dulu agar segalanya lebih teratur. Seperti pada kurikulum 2013 yang saat ini sedang menjadi isu hangat dan merupakan sebuah contoh inovasi, maka itu tentnya harus ada perencanaan yang matang. Kurang lebih seperti itu menurut Ai Linda Nurmalasari.
Moderator pun memberi kesempatan kepada audiens untuk memberikan tambahan jawaban. Saat itu Delia yang bertindak sebagai penanya mungkin kurang puas dengan jawaban yang dipaparkan oleh Ai Linda, maka Delia kembali menegaskan bahwasannya yang dia harapkan jawabannya lebih kepada proses dan teknis untuk mempengaruhi masyarakat agar mau menerima inovasi. Kembali, moderator pun menyerahkan kepada audiens hingga akhirnya saya pun kembali menambahkan jawaban.
Entah saat itu jawaban saya bisa sesuai dengan apa yang diharapkan Delfia atau tidak, namun saya katakan apa yang ingin saya utarakan itu ada hubungannya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nita. Sebelum sampai kepada pokok bahasan, saya mengatakan apa yang dikatakan Ai Linda ada benarnya juga. Bahwasannya di dalam segala sesuatu yang akan dilakukan harus ditetapkan terlebih dahulu tujuannya karena tujuan itu akan menjadi acuan atau indikator nantinya apakah yang diharapkan pada sesuatu yang telah dilakukan itu sudah tercapai atau belum. Lalu benar adanya harus ada perencanaan yang jelas. Perencanan ini merupakan bagian dari prinsip-prinsip manajemen secara umum. Jika dispesifikan dan dihubungkan dengan inovasi, maka akan ada manajemen perubahan seperti pada ilmu advokasi. Hanya tetap saja prinsip-prinsip yang dimabil adalah prinsip manajemen secara umum seperti yang dikatakan oleh salah seorang ahli manajerial G.R. Terry bahwa setidaknya sebelum melakukan sesuatu ada beberapa yang harus dipertimbangkan dan dilakukan. Diantaranya adalah Planning (perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Penggerakan), dan Controlling (Pengawasan). Misalnya saja pada kurikulum 2013, maka sebelum kurikulum ini disahkan menjadi sebuah kebijakan pemerintah, pasti diawalnya telah dilakukan perencanaan terlebih dahulu (Planning). Kemudian M. Nuh menteri pendidikan membentuk sebuah tim khusus untuk merancang dan membahas kurikulum 2013 ini (Organizing). Selanjutnya elemen-elemen dan orang-orang yang ditunjuk tersebut bergerak/bekerja sesuai dengan jobdesknya masing-masing dibawah komando menteri pendidikan (Actuating), dan terakhir dilakukan pengawasan apakah kurikulum 2013 ini berjalan cukup baik atau masih perlu  ada perbaikan untuk kedepannya (Controlling).
Lalu sedikit menyoroti salah satu atribut inovasi yang dikemukakan oleh Zaltman, yaitu penyuluhan. Dalam penyuluhan ini tentunya ada proses saling mempengaruhi atau dalam ilmu advokasi dikenal dengan istilah “Lobbiying”. Berdasarkan hasil PLKM 2013 (Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa 2013)  yang telah saya dapatkan di UPI kampus Bumi Siliwangi, salah seorang pemateri tentang advokasi menyebutkan empat hal yang menjadi kunci keberhasilan proses Lobbiying tersebut, diantaranya:
1.        Berpenampilan menarik
Jika ingin menerapkan pengaruh/faham terhadap orang lain, maka yang harus dilakukan adalah berpenampilan menarik. Menarik di sini dalam artian adalah rapi dan terlihat sopan serta menyenangkan.
2.        Tidak mudah tersinggung
Untuk mengajak orang lain menerima konsep, faham, atau hal apapun yang dibawa terutama hal yang baru maka kita selaku penggagas atau yang menawarkan konsep tersebut tidak boleh mudah tersinggung dan berputus asa.
3.        Cara kerja
Bagaimana kita bekerja, dan dedikasi kita terhadap pekerjaan akan berpengaruh juga terhadap penerimaan orang lain akan perubahan/inovasi yang kita tawarkan.
4.        Jaringan/relasi
Semakin banyak jaringan/relasi maka akan semakin mudah untuk kita menyebarluaskan inovasi yang kita bawa.

Resume Pembelajaran: Inovasi dan Modernisasi



NAMA   : HAFNI RESA AZ-ZAHRA
KELAS   : 2-A


INOVASI DAN MODERNISASI

Diskusi hari Selasa, 10 September 2013 pada mata kuliah Inovasi Pendidikan dibahas tentang pengertian inovasi dan modernisasi serta kaitan antara Inovasi dengan modernisasi.
Dari paparan pemateri, didapat bahwa Inovasi merupakan sebuah perubahan baik yang berasal dari perbaikan terhadap sesuatu yang sebelumnya pernah ada atau bahkan perubahan yang berasal dari sesuatu yang murni belum pernah ada sebelumnya. Sedangkan modernisasi adalah bentuk transformasi keadaan dari keadaan yang sebelumnya tradisional/berkembang, menjadi lebih maju/modern. Perubahan pada moderniasasi ini termasuk ke dalam perubahan sosial. Kemudian kaitannya atara modernisasi dengan inovasi satu sama lain adalah Inovasi akan memnandai munculnya modernisasi.
Dari paparan pemateri, beberapa orang di kelas tergelitik untuk menanyakan hal-hal yang tentunya berhubungan dengan Inovasi dan Moderniasasi. Salah satunya adalah saya sendiri.
Saat itu saya bertanya, “Mana yang lebih dahulu ada, Inovasi dulu kemudian Modernisasi atau justru sebaliknya?” Lalu bagaimana jika seandainya inovasi yang ada tidak diterima oleh masyarakat, apakah modernisasi tetap terjadi?”
Saudari Tira yang berlaku sebgai pemateri saat itu memberikan jawaban bahwa modernisasi dan inovasi itu berjalan berdampingan. Ketika modernisasi terjadi maka di dalamnya ada inovasi, dan ketika inovasi terjadi maka akan terjadi juga modernisasi. Sedangkan jika inovasi tidak diterima masyarakat maka modernisasi tidak akan pernah terjadi.
Dari jawaban yang ada, nampaknya sedikit membingungkan juga. Alasannya pertama, pemateri menjawab jika inovasi tidak diterima masyarakat maka modernisasi tidak akan pernah terjadi. Itu seolah-olah menggambarkan bahwa inovasi terjadi lebih dahulu kemudian modernisasi akan terjadi setelah inovasi. Sedangkan sebelumnya pemateri menjelaskan bahwa modernisasi dan inovasi itu berjalan bersama-sama.
Kemudian saudara Andi Permana menambahkan bahwa menurutnya Inovasi yang lebih dahulu ada, setelah itu barulah terjadi modernisasi. Sehingga Andi setuju bahwa ketika inovasi tidak diterima masyarakat maka tidak akan terjadi modernisasi.
Saya sendiri masih belum bisa berkesimpulan pada saat itu, karena yang saya yakini walaupun ada keterkaitan antara modernisasi dan inovasi, namun diantara kedduanya seperti ada hal yang seharusnya menjadi faktor utama timbulnya sesuatu yang lain. Seperti sebuah hubungan sebab-akibat, jika “A” maka “B”.
Kemudian saya teringat kembali  pendapat Soerjono Soekanto (1982), seorang Sosiolog, mengemukakan bahwa:
1.              Manusia modern  adalah orang bersikap terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru maupun penemuan-penemuan baru. Intinya tidak ada sikap apriori atau prasangka.
2.              Manusia modern senantiasa siap untuk menerima perubahan-perubahan setelah ia menilai kekurangan-kekurangan yang di hadapinya saat itu.
Sehingga pada akhirnya saya menyimpulkan sementara memang benar ada keterkaitan antara keduanya, meskipun inovasi dan modernisasi berjalan berdampingan namun tetap saja inovasi lebih dominan menjadi faktor penyebab terjadinya modernisasi. “Jika inovasi ada, maka akan terjadi modernisasi, dan semata-mata tidak akan terjadi modernisasi jika masyarakatnya tidak memiliki potensi untuk menjadi masyarakat modern (masyarakat tidak bersikap terbuka terhadap hal-hal baru).” Saya sampai pada sebuah pendapat, masyarakat yang tidak menerima perubahan adalah masyarakat yang belum siap menjadi modern.
Pertanyaan selanjutnya ditanyakan oleh saudari Hani Nur Azizah, “Bagaimana jika ada siswa yang tidak mau mendukung terjadinya perubahan, seperti ketika dia hanya menyukai satu pelajaran saja yaitu matematika sehingga dia malas mempelajari pelajaran lain, atau ketika dia sudah cocok dengan guru A namun ketika gurunya diganti menjadi B dia sulit menerima apa yang ‘disuguhkan/dihadirkan’ guru B dalam proses pembelajaran?”
Dari berbagai pendapat yang ada, seperti salah satunya dari saudari Ai Linda, mengatakan bahwa harus ada upaya ekstra dari gurunya untuk bisa menyesuaikan terhadap keinginan siswanya. Apa yang menjadi harapan siswa dalam proses pembelajaran harus diketahui oleh guru. Sependapat dengan Andi Permana Sutisna, juga mengatakan bahwa faktor “Human Errornya” itu ada pada guru sehingga harus guru yang mencari tahu menyesuaikan perubahan tersebut dengan kondisi dan keinginan murid. Sedangkan jawaban pemateri sendiri yang diwakili oleh saudari Lilis Susanti, salah satu pemecahannya adalah dengan implementasi kurikulum 2013 ke dalam proses pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan dan di rasa perubahan akan tampak menyenangkan.
Dari jawaban-jawaban tersebut saya mengambil sikap seperti berikut ini:
1. Faktor “Human Error” (tidak mau terbuka terhadap perubahan) bisa terjadi pada kedua belah pihak baik itu guru maupun siswa. Jika terjadi pada siswa, tetap saja yang akhirnya harus mengalah adalah guru. Karena sejatinya guru dituntut untuk peka terhadap keadaan siswanya. Guru pernah mempelajari psikologi pendidikan, pedagogik, dll. sehingga guru harus lebih mengerti tentang harapan siswanya dalam proses pembelajaran. Sehingga inovasi-inovasi apapun yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran maka guru harus mengkaji siapa dan seperti apa saja siswanya sehingga akhirnya ditemukan metode pembelajaran yang tepat dan efektif untuk para siswanya.
2. Bisa juga terjadi karena kepribadian guru. Misalkan guru “A” mengajar dengan penuh keceriaan dan bisa membuat anak-anak tertawa ketika di kelas karena karakternya yang humoris. Sedangkan guru “B” mengajar dengan baik namun karena karakternya yang biasa saja tidak humoris, guru “B” kurang disukai siswa. Maka yang harus dilakukan guru adalah dengan melakukan sharing antar guru, misalnya saja guru “B” tersebut bertukar pikiran dengan guru “A” bagaimana caranya mengajar dengan inovasi-inovasi pembelajaran yang sempat dilakukannya. Namun tentunya guru “B” tersebut tidak boleh sampai mengikuti semua aspek yang ada pada guru “A”. Guru “B” walau ingin mengadopsi beberapa hal dari guru “A”, dia harus tetap menjadi dirinya sendiri sambil seantiasa berusaha menemukan metode mengajar yang tepat tanpa dia harus menjadi orang lain. Karena setiap orang hanya akan nyaman dan terlihat unik jika dia tetap menjadi dirinya sendiri. Jadi biarkan siswa dan guru sama-sama saling menyesuaikan diri satu sama lain, meski tetap yang harus lebih banyak berkorban adalah gurunya.
3.    Menanggapi pernyataan Lilis bahwa dengan mengimplementasikan kurikulum 2013 maka siswa tidak akan merasa bosan, maka itu pun tentunya harus banyak lagi yang guru korbankan. Tentunya agar pembelajaran menyenangkan, guru harus keluar dari zona nyamannya dan mengajar dengan media dan metode yang lebih kreatif lagi. Sehingga ketika guru berkomitmen ingin menjalankan kurikulum 2013 dengan sungguh-sungguh, maka guru harus siap dengan segala konsekuensinya. Guru harus belajar untuk lebih kreatif dan inovatif agar mampu menciptakan atmosfer pembelajaran yang menyenangkan.
Selanjutnya adalah pertanyaan dari saudarai Nurul Awalina terkait dengan pro dan kontra kurikulum 2013. Nurul bertanya bahwa kurikulum 2013 ini merupakan sebuah inovasi kurikulum, lalu bagaimana caranya agar kurikulum 2013 ini diterima masyarakat?
Jannatul Fuadah dan Tira Widianti selaku pemateri menyampaikan pendapatnya, bahwa kurikulum 2013 ini menuai kontra karena kurikulum yang sebelumnya saja baru diterapkan tujuh tahun dan itu belum termasuk ke dalam jangka waktu yang lama. Namun tetap saja karena kurikulum 2013 ini sudah mulai dilaksanakan, seyogyanya para guru harus mendukung karena jika terlaksana ini merupakan sebuah inovasi yang sangat baik.
Di sela-sela diskusi tersebut saya memberikan tambahan. Berdasarkan beberapa artikel berita dan wacana dari internet yang saya baca beberapa bulan lalu, maka benar bahwa idealnya kurikulum itu diterapkan selama 10 tahun, baru setelah itu dievaluasi baik atau tidaknya kurikulum tersebut. Dari jangka waktu KTSP sampai Kurikulum 2013 ini rentang waktunya masih tujuh tahun, belum sampai 10 tahun sehingga evaluasinya belum ideal dan maksimal. Lebih parah lagi ketika kurikulum KBK tahun 2004 ke KTSP 2006 itu malah sama sekali tidak dilaksanakan evaluasi. Dan ternyata opini dan wacana tersebut diperjelas lagi ketika saya mengikuti acara Talk Show dengan salah satu anggota Komisi X DPR RI, Ibu Popong yang juga merupakan praktisi pendidikan UPI, mengatakan bahwa kurikulum 2013 ini dilaksanakan secara sepihak. Menurutnya ketika dilaksanakan uji publik pada bulan Desember 2012 di Tasik, yang diundang itu hanya dari kalangan yang jelas sudah Pro Kurikulum 2013 saja, sehingga hasilnya jelas hampir 90% mereka setuju agar kurikulum 2013 dilaksanakan. Dan memang beliau sendiri menegaskan bahwa semua hal yang terjadi di kementrian penidikan itu banyak berhubungan dengan “proyek”, sehingga pada akhirnya kurikulum 2013 ini cepat-cepat dilaksanakan.
Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat yang dikatakan Bu Popong tersebut dan kembali pada pertanyaan yang diajukan oleh Nurul Awalina di kelas, saya berpendapat bahwa kita sebaiknya jangan hanya memandang segala sesuatunya dari sisi negatif saja. Sudah waktunya kita menerima kebijakan pemerintah dengan tetap berfikir positif, karena di sisi lain banyak juga kelebihan dari kurikulum 2013 ini. Jadi untuk membuat masyarakat (termasuk juga kalangan guru sendiri) yang semula kontra menjadi pro terhadap kurikulum 2013, maka sebaiknya apa yang menjadi nilai plus dari kurikulum 2013 ini disosialisasikan kembali tentunya harus oleh orang yang tepat dan jago dalam hal “lobbiying”. Juga selain disosialisasiokan senantiasa dihimbau agar masyarakat sama-sama mendukung dan mendorong apa yang kini sudah dijadikan kebijakan (read: kurikulum 2013), karena jika sudah dijadikan kurikulum dan harus dijalankan, namun tidak dijalankan dengan penuh kesungguhan, maka “kegagalan dalam pendidikan” bisa terjadi lagi dan terlihat semakin menjadi.


Contoh Penyelesaian Konflik dalam Bimbingan Konseling

Contoh Penyelesaian Konflik dalam Bimbingan Konseling

Sebuah tugas berhubungan dengan mata kuliah bimbingan konseling.



NASKAH DRAMA BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK 2
KELAS 2-A


Pemeran:                               
1.      Enok Erin sebagai Guru
2.      Eria sebagai siswa kelas 5 yang diejek
3.      Ida sebagai siswa kelas 5 yang mengejek
4.      Fajar sebagai siswa kelas 6 temannya Ida
5.      Ayu Nurlawati sebagai siswa kelas 5 teman Eria
6.      Nurul Awalina sebagai siswa kelas 6 teman Eria
7.      Wardini Sariningsih sebagai alumni teman Ida
8.      Leni Ade Putri sebagai alumni teman Eria
9.      Nita Yulinda sebagai ibunya Ida
10.  Hafni sebagai ibunya Eria

Guru      : Selamat datang kepada ibu Hafni, selaku ibunya Eria yang berkenan hadir hari ini, kepada ibunya Ida juga, kepada anak-anak ibu sekalian dari SD Sukamaju yang bersedia datang jauh-jauh ke SD Sindangraja ini. Ini, Ida kan ya? Lalu ini Fajar, betul? Beberapa hari ke belakang ibu sudah berbincang-bincang dengan salah satu guru di SD Sukamaju dan alhamduillah atas prakarsa beliau maka ibu dan anak-anak dari SD Sukamaju bisa hadir di sini. Namun yang bersangkutan kebetulan hari ini sedang mengikuti diklat maka dari itu beliau cukup mempercayakan kepada saya saja. Kepada teteh-teteh alumni juga ibu ucapkan terimakasih. Mohon maaf sekali hari ini ibu mengumpulkan orangtua dan kalian semua para siswa, ya mungkin kita semua sudah tahu tujuannya ya untuk apa hari ini kita berkumpul. Terutama kepada ibunya Ida dan ibunya Eria ya, dalam kesibukannya masih menyempatkan untuk hadir. Saya tahu, ibu tahu, dan ibu yakin sekali bahwa kita hidup di dunia ini tidak lepas dari permasalahan, selalu saja ada permasalahan. Namun yang harus kita ingat bersama adalah bahwa tidak ada permasalahan yang tidak dapat kita selesaikan. Pasti ada solusinya. Maka dari itu, hari ini kita duduk di tempat ini, berharap kita akan dapat menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Ya bu ya?
Ibu-ibu   : Iya betul bu, betul.
Guru      : Iya, bu. Anak-anak, ibu sudah mendengar dari bu Hafni, ibunya Eria, persoalannya seperti apa. Yang ibu tangkap bahwa ini sebetulnya adalah sebuah permasalahan kecil, namun menjadi besar ketika sudah disangkut pautkan dengan kedua sekolah, bahkan sampai alumni pun ikut terlibat. Serta menjadi masalah ketika pertengkaran yang terjadi itu dari kedua belah pihak memakai kata-kata yang kasar. Bahkan sampai mengancam segala. Itu ibu hanya mendengar dari satu pihak saja, sekarang ibu ingin tahu, coba di sini siapa yang ingin bercerita terlebih dahulu tentang masalah ini, ada?
Hafni : Begini, bu, maaf sebelumnya saya menyela dulu. Saya sangat khawatir, malu, kesal, dan cemas juga. Anak saya diancam oleh orang lain bahkan dengan kata-kata yang kasar. Malunya, seolah-olah ini anak-anak semua seperti yang tidak dididik gitu bu, seperti bukan terpelajar, apalagi mereka masih Sd, sudah berani-berani mengancam. Saya takut bu, khawatir. Apalagi ketika anak saya diancam. Masa anak SD sudah berani main ancam-ancaman?
Nita        : Maaf bu, sebentar. Bukan ibu saja yang merasa seperti itu. Saya pun khawatir sebetulnya. Saya tidak pernah mengajarkan anak saya untuk berkata-kata seperti itu. Ibu tidak boleh menyalahkan anak saya sembarangan. Dia berkata seperti itu juga pasti ada sebabnya.
Hafni     : Lah, siapa yang menyalahkan anak ibu? Saya hanya mengungkapkan apa yang menjadi rasa khawatir saya!
Guru      : Sabar bu, sabar. Iya, saya mengerti. Bukan hanya Bu Hafni dan Bu Nita saja yang merasa seperti itu, tapi saya juga sebagai gurunya merasakan hal yang sama. Saya faham betul apa yang ibu sekalian rasakan. Saya merasa belum cukup baik dalam mendidik mereka, mungkin itu pula yang dirasakan ibu, benar?
Ibu-Ibu mengangguk
Guru         : Iya. Nah, sekarang ibu sebelumnya mau tanya dulu sama Eria. Sebetulnya maksud Eria mengupload foto kelas di facebook itu untuk apa?
Eria         : Bu, eria tuh kan bangga aja gitu sama kelas Eria, sama sekolah kita jadi sama Eria di upload. Tapi ada yang ngomentarin ga tau kenapa tiba-tiba ngejek SD Sukamaju jelek lah, sempit lah.
Ayu          : Iya bu, itu maksud Eria Cuma mau ngupload foto di facebook aja, kan oranglain juga banyak yang suka ngupload foto di facebook sama temen-temennya, jadi Eria juga kayak gitu. Eh tapinya malah dikomentarin yang jelek-jelek sama anak SD lain.
Guru           : Sekarang ibu mau tanya sama Ida, maaf ya mamahnya Ida sebelumnya. Ida, ibu mau tau kenapa sih Ida ngirim komentar kaya gitu?
Ida       : (Diam)
Guru    : Ida.. jawab saja nak, tidak apa-apa..
Nita      : Ayo jawab neng!
Ida         : Ya bu, kesel aja soalnya kaya yang sengaja atau gimana gitu itu di facebooknya. Awalnya ga langsung ngejek ko bu Ida juga. Ida ngirim komen wow kata ida tuh, nah sama Eria dibales lagi, apa kamu, katanya. Ya sama Ida juga dijawab lagi kamu kalo nanya yang sopan. Terus Erianya bilang kalo Ida juga ga sopan tiba-tiba ngirim komen kaya gitu.
Guru     : Oh, jadi awalnya Eria ga enak sama Ida itu gara-gara Ida yang sebelumnya tidak kenal sama Eria, Ida ngirim komentar wow, dan seolah-olah itu kayak ngejek gitu ya? Terus Ida juga gak enak sama Eria karena dibilang ga sopan gitu?
(eria dan ida mengangguk)
Guru    : Kalo gitu ibu mau tanya sama Ida, kenapa coba Ida bilang wow di komentar foto itu?
Ida        : Ya pengen aja bu, pengen komentarin fotonya aja. Ga ada maksud apa-apa. Kan orang-orang lagi musim bilang kayak gitu.
Guru    : Sekarang, coba ibu mau tau kenapa sampai anak-anak kelas 6 ikut-ikutan juga?
Nurul     : Ya ibu, Nurul ikut-ikutan soalnya ga enak lihat sekolah kita diejek-ejek sama mereka. Dibilang jelek, dibilang sempit. Malah itu Ida sama kakak kelasnya bilang awas aja katanya kalo Eria pulang sekolah nanti mau dicegat sama anak-anak SD Sindangraja. Mau dipukulin. Jadi ya sama nurul dibela.
Fajar         : Bu, saya ikut-ikutan soalnya gak enak ada adik kelas yang dibilang ga sopan. Soalnya waktu itu saya denger dari alumni kalo SD Sindangraja malah lebih gak sopan lagi. Waktu habis ada pertandingan sepak bola. Terus itu sebetulnya ngancamnya pura-pura bu, ga betulan kok.
Guru    : Apa iya seperti itu? gak sopannya gimana coba?
Wardini  : Jadi gini bu, dulu itu waktu habis pertandingan sepak bola SD Sindangraja kalah. Terus anak-anak SD Sindangraja malah gak nerima. Akhirnya anak-anak sepak bolanya pada dateng ke SD saya terus teriak-teriak kaya yang ngancam sambil ngehina kalo sekolah kita nyogok wasit lah, apalah.
Leni       : Iya tapi itu kan dulu emang banyak orang yang bilangnya kaya gitu? Saya sebetulnya bu kenapa ikut-ikutan, soalnya lihat adik kelas saya diejek, sekolah saya dihina lagi, apalagi diancam, kasian, jadi saya juga negebela.
Guru      : Ibu faham sekarang. Emang ya, ga enak kalo kita dihina, diejek. Ibu tau rasanya. Sedih, marah, kesal, dan pantas kakak kelas dari pihak masing-masing sama alumninya juga mau membela. Sebetulnya ini cuma masalah kecil. Namun malah jadi besar ketika melibatkan dua sekolah, orangtua, bahkan juga alumni. Coba sekarang ibu tanya, kalau kalian gak sampai saling ejek, saling hina pake kata-kata kasar, sambil ngancam juga, menurut kalian itu masalahnya jadi besar kayak gini engga?
Eria      : Ya engga bu..
Guru      : Nah sekarang, misalkan kalo Ida gak ngirim komentar iseng kaya gitu kira-kira Eria kesinggung engga?
Eria      : Engga bu..
Guru    : Kalo Ida, ada di posisi Eria. Dikirim komentar ieseng kayak gitu rasanya Ida akan kaya gimana?
Ida       : Iya sih bu, ga enak aja, kenal juga engga tiba-tiba ngirim komentar kaya gitu.
Guru      : Iya, ga enak kan ya? Jadi seharusnya kita tidak usah iseng ngirim komentar kalau misalkan hal itu tidak terlalu penting untuk kita, tidak ada hubungannya sama kita, apalagi kita juga gak kenal sama orangnya. Betul ga Ida?
Ida mengangguk.
Guru      :Terus juga Nurul, Fajar, itu kan kasus sepak bola yang dulu ibu juga tahu, sebetulnya itu sudah selesai, kenapa harus dibawa-bawa lagi, dipermasalahkan lagi? Kalo seandainya sekarang kasus sepak bola itu ga dibawa-bawa lagi kira-kira sampai akan ada alumni yang terlibat juga engga?
Fajar    : Engga bu.
Guru      : Nah, maka dari itu. Kalau diungkit-ungkit lag berarti masih ada dendam, padahal dendam itu tidak baik. Lagi pula kan sudah saling memaafkan. Lalu buat teh Leni sama Teh Wardini, kalian kelas berapa skarang?
Leni&Wardini : kelas 7 bu mau naik ke kelas 8.
Guru      : Nah, seharusnya sebagai kakaknya kalian lebih bisa mencontohkan yang baik-baik lagi buat adik kelasnya, jangan sama-sama malah ikut-ikutan kasar, ya teh?
Leni&Wardini  : Iya bu..
Guru      : Anak-anak, tolong dengarkan ibu semua. Di dunia ini tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Namun tidak selamanya manusia melakukan kesalahan, ada kala seseorang benar. Setiap orang sebetulnya punya hak buat mengekspresikan dirinya, kayak Eria ngupload foto ke Fb itu bentuk untuk mengekspresikan dirinya. Tapi setiap orang juga punya hak buat berpendapat, berkomentar,  tapi harus tau etikanya juga. Anak-anak, ibu yakin kalian semua itu sebetulnya tidak berniat saling mengejek, menghina. Betul kan? (anak-anak mengangguk). Di pelajaran PPkn kemarin, kita kan belajar untuk saling menyayangi, menghormati, menghargai, memaafkan, agar kita hidup rukun dan damai. Coba siapa di sini yang mau hidup rukun seperti itu?
Anak-anak mengacungkan tangan.
Guru      : Nah maka dari itu mulai sekarang kita harus saling menghargai, menghormati, menyanyangi, memaafkan.Kalian sendiri juga tahu bahwa yang paling baik dan berani itu orang yang berani mengakui kesalahan, dan berani meminta maaf duluan. Coba di sini  sekarang siapa kira-kira yang berani untuk meminta maaf duluan?
(Hening)
Guru    : Eria, ayo mau minta maaf duluan sama Ida, ga?
Eria      : Kan Ida duluan yang salah.
Guru      : Tapi kan Eria juga udah salah, ikut ngejek ida, sekolahnya ida. Jadi Idanya juga sama ikut ga enak, betul ga eria?
Eria      : Iya, betul. Ida maafin ya.
Ida       : Iya Ida juga minta maaf ya.
(Semua saling bermaafan termasuk alumni dan orangtua).
Guru      : Nah, alhamdulillah sepertinya permasalahan kita sudah selesai. Betul kan, tidak ada permasalahan yang tidak bisa kita selesaikan bersama. Asalkan kita mau duduk bersama dengan niat yang baik untuk berdamai maka Insya Allah permasalahan kita akan selesai. Ibu percaya untuk ke depannya kalian akan lebih baik lagi, lebih akur, tidak akan saling mengejek lagi. Benar begitu? Janji ya kalian tidak akan bertengar lagi setelah ini?
(anak-anak mengiyakan).
Guru      : Iya kalau begitu, ibu juga minta maaf dan sangat-sangat berterimakasih. Anak-anak dan ibu sekalian sudah bersedia untuk hadir hari ini untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama ya. Maaf jika ibu sendiri juga memiliki kesalahan-kelasalahan.
Nita      : Iya bu, tidak apa-apa justru saya sangat berterimakasih.
Hafni   : Betul bu, kami sangat berterimakasih sekali kepada ibu.